BULUGHUL MARAM KUMPULAN HADITS HUKUM SYARIAT ISLAM
TOTAL 1.585 HADITS LENGKAP 16 DAFTAR KITAB
LENTERA SUNNAH
Bab Waktu Shalat: Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir
Hadits ke-176 Derajat: Shahih 2. Kitab Shalat

Bab Waktu Shalat: Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir

Ukuran Teks Arab:
Poin Inti Hukum Fikih

Landasan hukum syariat pada Bab Waktu Shalat: Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal wa ktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah b...

Matan Hadits Nabawi Hadits ke-176
وَعِنْدَهُمَا مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ: { وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا: إِذَا رَآهُمْ اِجْتَمَعُوا عَجَّلَ, وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ, وَالصُّبْحَ: كَانَ اَلنَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ } .

Terjemahan Resmi Indonesia

"Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal wa ktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terl ambat beliau mengakhirkannya, sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sall am menunaikannya pada saat masih gelap."
Derajat: Shahih
Takhrij: Tercantum dalam Kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (mengikuti takhrij hadits pokok sebelumnya).

Kosa Kata & Mufradat Kunci Hadits

أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا Ahyaanan wa Ahyaanan
Menyesuaikan waktu shalat Isya' dengan kehadiran dan kesiapan jamaah masjid.
عَجَّلَ وَأَخَّرَ 'Ajjala wa Akhkhara
Mengawalkan jika jamaah cepat berkumpul dan mengakhirkan jika jamaah terlambat hadir.
صَلَّاهَا بِغَلَسٍ Shallaahaa bi Ghalasin
Mengimami shalat Shubuh pada saat gelap fajar masih menyelimuti langit.

Penjelasan & Syarah Ilmiah (Kajian Fikih Hadits)

Hadits ini merupakan landasan dalil syar'i dalam Kitab Shalat / Bab Waktu Shalat mengenai Bab Waktu Shalat: Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir. Melalui periwayatan Sahabat Jabir, matan hadits ini menerangkan ketetapan: "Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal wa ktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terl ambat beliau mengakhirkannya, sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sall am menunaikannya pada saat masih gelap."

Kajian Takhrij & Status Riwayat: Tercantum dalam Kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (mengikuti takhrij hadits pokok sebelumnya). Para ulama fikih menjadikan riwayat dalam Bulughul Maram ini sebagai pijakan ilmiah dalam merumuskan hukum amaliah, baik dari sisi syarat, rukun, keutamaan sunnah, maupun batasan larangannya agar ibadah dan muamalah seorang muslim senantiasa sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Faedah Fikih & Pelajaran Praktis Sehari-hari

  • 1 Hadits di atas menetapkan faedah hukum: “Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal wa ktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terl ambat beliau mengakhirkannya, sedang mengenai shalat Shubuh biasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sall am menunaikannya pada saat masih gelap.”
  • 2 Pelajaran praktis: mengamalkan tuntunan syariat pada Bab Waktu Shalat secara tertib dalam kehidupan sehari-hari.
  • 3 Membimbing umat Islam untuk senantiasa berpedoman pada sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan penuh keyakinan.

Tanya Jawab Seputar Hadits Ini (FAQ Fikih)

Bagaimana fikih praktis terkait bab waktu shalat?

Menurut hadits Bukhari-Muslim dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya’ pada awal wa ktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir w

Bagaimana kedudukan sanad dan derajat hadits ini?

Tercantum dalam Kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (mengikuti takhrij hadits pokok sebelumnya). (Derajat: Shahih).