Kajian Dalil & Hukum Fikih pada Bab Shalat Sunnah (Hadits ke-393)
Landasan hukum syariat pada Bab Shalat Sunnah: Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sholat sebelum Maghrib dua rakaat.
Terjemahan Resmi Indonesia
"Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sholat sebelum Maghrib dua rakaat."
Kosa Kata & Mufradat Kunci Hadits
Penjelasan & Syarah Ilmiah (Kajian Fikih Hadits)
Hadits ini merupakan landasan dalil syar'i dalam Kitab Shalat / Bab Shalat Sunnah mengenai Kajian Dalil & Hukum Fikih pada Bab Shalat Sunnah (Hadits ke-393). Melalui periwayatan jalur periwayatan hadits ini, matan hadits ini menerangkan ketetapan: "Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sholat sebelum Maghrib dua rakaat."
Kajian Takhrij & Status Riwayat: Tercantum dalam Kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (mengikuti takhrij hadits pokok sebelumnya). Para ulama fikih menjadikan riwayat dalam Bulughul Maram ini sebagai pijakan ilmiah dalam merumuskan hukum amaliah, baik dari sisi syarat, rukun, keutamaan sunnah, maupun batasan larangannya agar ibadah dan muamalah seorang muslim senantiasa sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Faedah Fikih & Pelajaran Praktis Sehari-hari
- 1 Hadits di atas menetapkan faedah hukum: “Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sholat sebelum Maghrib dua rakaat.”
- 2 Pelajaran praktis: mengamalkan tuntunan syariat pada Bab Shalat Sunnah secara tertib dalam kehidupan sehari-hari.
- 3 Membimbing umat Islam untuk senantiasa berpedoman pada sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan penuh keyakinan.
Tanya Jawab Seputar Hadits Ini (FAQ Fikih)
Bagaimana fikih praktis terkait bab shalat sunnah?
Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sholat sebelum Maghrib dua rakaat.
Bagaimana kedudukan sanad dan derajat hadits ini?
Tercantum dalam Kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (mengikuti takhrij hadits pokok sebelumnya). (Derajat: Shahih).